Setiap musim hujan tiba, Sumatra seolah menahan napas. Sungai-sungai yang dahulu mengalir tenang kini meluap tanpa permisi, membawa air keruh yang menyusup ke rumah-rumah, ladang, dan kenangan warga. Banjir kembali datang—bukan sebagai tamu tak terduga, melainkan sebagai pengingat yang terlalu sering kita abaikan.
Air yang melimpah bukanlah musuh. Ia adalah anugerah yang memberi hidup. Namun ketika hutan-hutan di hulu ditebang tanpa jeda, ketika tanah kehilangan pelindungnya, dan sungai disempitkan oleh keserakahan, air berubah menjadi bencana. Alam tidak tiba-tiba murka; ia hanya bereaksi atas perlakuan manusia yang lupa batas.
Di balik genangan itu, ada kisah-kisah sunyi yang jarang terdengar. Anak-anak yang kehilangan ruang belajar, petani yang menyaksikan sawahnya tenggelam, dan keluarga-keluarga yang harus memulai kembali dari nol. Mereka bukan penyebab kerusakan, tetapi justru menjadi korban paling awal dan paling lama. Banjir di Sumatra, karenanya, adalah tragedi ekologis sekaligus ketidakadilan sosial.
Kita sering sibuk menghitung kerugian material, namun jarang menghitung kehilangan yang tak kasat mata: rusaknya relasi manusia dengan alam. Pembangunan yang tak berakar pada kebijaksanaan ekologis telah menjauhkan kita dari keseimbangan. Hutan diperlakukan sebagai komoditas semata, sungai sebagai saluran pembuangan, dan alam sebagai objek yang bisa ditaklukkan.
Padahal, Sumatra memiliki kearifan lama yang mengajarkan hidup selaras dengan semesta. Dalam budaya dan tradisi lokal, alam bukan benda mati, melainkan titipan yang harus dijaga. Ketika nilai-nilai ini ditinggalkan, yang tersisa hanyalah penyesalan setiap kali air naik dan daratan menghilang.
Banjir yang berulang seharusnya menjadi cermin. Ia memantulkan wajah kita sendiri—apakah kita masih setia pada janji menjaga bumi, atau justru terus menunda perubahan demi keuntungan sesaat. Menolong korban banjir adalah kewajiban kemanusiaan, tetapi mencegah banjir adalah tanggung jawab moral.
Sumatra tidak meminta banyak. Ia hanya ingin diperlakukan dengan adil: hutan yang dirawat, sungai yang dihormati, dan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan. Jika kita mampu mendengar pesan yang dibawa air, mungkin suatu hari banjir tak lagi menjadi kisah tahunan, melainkan pelajaran yang benar-benar kita pahami.
By: Dr. Syahrudin, S.Sos.I., M.Pd.I