Peluncuran jurnal ini bukan sekadar seremoni akademik, tetapi sebuah deklarasi bahwa lembaga pendidikan berbasis pesantren dapat berdiri sejajar dengan institusi ilmiah nasional dan internasional. Jurnal pertama, Journal of Education, Culture, and Community Service (EDUCAS), dirancang sebagai ruang temu antara dunia pendidikan, kebudayaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menjadi wadah bagi gagasan inovatif tentang bagaimana pendidikan mampu menjaga tradisi sekaligus memberdayakan masyarakat. Sementara itu, Journal of Educational Research and Innovation (EDURIN) hadir menjawab tantangan zaman modern—mulai dari digitalisasi pembelajaran, kurikulum berbasis kompetensi abad 21, hingga kebijakan pendidikan global.

Di tengah gemerlap cahaya malam dan lantunan hadrah yang syahdu, Yayasan Pendidikan Al-Muttaqin Jabung, Ponorogo, mencatatkan sejarah baru dalam dunia pendidikan dan keilmuan. Pada Kamis, 18 September 2025, yayasan ini tidak hanya menggelar penandatanganan Letter of Intent (LoI) dengan akademisi Malaysia, tetapi juga meresmikan empat jurnal ilmiah sebagai tonggak lahirnya pusat intelektual baru berbasis pesantren, budaya, dan pengabdian masyarakat. Di hadapan para tamu kehormatan, seperti Prof. Madya Dr. Khairunesa Binti Isa dan Dr. Siti Marfuah dari Malaysia, para dosen IAIRM Ngabar, tokoh masyarakat, dan pimpinan desa, suasana terasa khidmat, penuh harapan, dan optimisme.

Tidak berhenti di sana, kepekaan sosial Yayasan Al-Muttaqin diwujudkan melalui Journal of Social Studies and Community Development (SOCDEV). Jurnal ini mengangkat isu-isu pembangunan masyarakat, ekonomi kreatif, keberlanjutan lingkungan, hingga penguatan peran generasi muda di tengah tantangan global. Di sisi lain, Journal of Religious and Cultural Studies (RELACS) menjadi ruang reflektif dan ilmiah untuk mempertemukan agama, budaya, dan realitas sosial. RELACS menggaungkan pentingnya toleransi, dialog antaragama, dan nilai kemanusiaan di tengah dunia yang sering kali terpecah oleh perbedaan.
Kehadiran empat jurnal ilmiah tersebut menjadi napas baru bagi dunia akademik pesantren—bahwa pesantren bukan hanya tempat mengaji, tetapi juga pusat ilmu pengetahuan yang kritis, adaptif, dan transformatif. Ketua Yayasan Pendidikan Al-Muttaqin dalam sambutannya menyatakan bahwa penerbitan jurnal ini adalah upaya untuk mencetak generasi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga cerdas, inovatif, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global. Prof. Khairunesa dari Malaysia pun menyampaikan apresiasi dan harapannya agar kolaborasi ini melahirkan karya ilmiah yang berdampak pada masyarakat luas.
Dengan peluncuran ini, Yayasan Al-Muttaqin meneguhkan diri sebagai pelopor integrasi pendidikan, budaya, dan nilai-nilai keislaman yang menyatu dalam riset dan pengabdian. Empat jurnal ilmiah ini bukan hanya simbol prestasi, tetapi juga gerbang masa depan—tempat lahirnya para peneliti muda, pegiat budaya, dan agen perubahan yang siap membangun dunia dengan ilmu dan akhlak. Dari sudut kecil di Ponorogo, gema ilmu pengetahuan pun mulai menggema, melampaui batas ruang, bahasa, dan bangsa.