Di sebuah sudut Desa Jabung, Mlarak, Ponorogo—tempat suara azan bersahutan dengan riuh anak-anak mengaji—sebuah harapan baru tengah tumbuh. Harapan itu bukan berasal dari gedung tinggi atau modal besar, melainkan dari sebuah warung kecil bernama “Angkringan Al-Muttaqiin” yang dikelola sepenuh hati oleh Ibu Mariati, seorang ibu sederhana, sabar, dan penuh pengabdian untuk pendidikan Islam.
Angkringan ini bukan sekadar tempat menjual nasi kucing, wedang jahe, atau gorengan hangat. Ia lahir dari keprihatinan Yayasan Al-Muttaqiin atas keterbatasan dana operasional untuk menjalankan TK Muslimat NU 183 dan TPQ Al-Muttaqiin. Selama ini, yayasan menjalankan program pendidikan, sosial, hingga kegiatan dakwah dengan biaya swadaya, gotong royong masyarakat, dan bantuan sukarela donatur. Di titik itulah muncul gagasan: mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, mengubah usaha kecil menjadi sumber keberkahan besar.
Dalam rapat yayasan, disampaikanlah ide menghadirkan usaha ekonomi umat yang dekat dengan kehidupan masyarakat—angkringan. Namun tidak berhenti di situ. Yayasan menegaskan, angkringan ini harus menjadi usaha yang bernilai dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan. Maka dipilihlah sosok pengelola yang amanah dan penuh keikhlasan: Ibu Mariati. Beliau bukan pengusaha besar. Ia hanyalah perempuan kampung yang terbiasa menyiapkan konsumsi acara-acara yayasan, aktif membantu kegiatan masjid, dan dikenal jujur, disiplin, serta tulus dalam pelayanan.
Setiap pagi sebelum matahari terbit, Ibu Mariati telah menanak nasi, menjerang air, dan menyiapkan lauk sederhana. Sore hari menjelang suara adzan Maghrib, angkringan kecil ini mulai ramai. Wali murid menunggu anaknya mengaji sambil menyeruput kopi panas. Pemuda desa duduk lesehan sambil berdiskusi ringan. Anak-anak TPQ terkadang mampir membeli tempe bacem atau sekedar berteduh di dekat lampu remang angkringan. Di antara hiruk-pikuk sederhana itu, berputarlah rezeki: rezeki untuk guru, rezeki untuk anak yatim, rezeki untuk keberlangsungan pendidikan.
Namun sesungguhnya, angkringan ini bukan semata-mata tentang jual beli. Ia adalah laboratorium karakter. Anak-anak melihat langsung bagaimana ibunya bekerja keras namun tetap santun. Remaja belajar bahwa berdagang adalah perintah Rasulullah, profesi para nabi. Guru belajar bahwa dakwah tak selalu di mimbar, tapi juga lewat usaha yang halal dan penuh keberkahan. Dan masyarakat belajar, bahwa membantu pendidikan bisa dilakukan dengan cara membeli secangkir teh hangat—karena setiap rupiah yang dibayarkan menjadi amal jariyah untuk mencerdaskan generasi.
Keuntungan dari angkringan ini tidak dinikmati pribadi. Sebagian dialokasikan untuk operasional lembaga, mendukung pembelajaran, membantu anak yatim, memperbaiki sarpras sekolah, bahkan untuk kegiatan sosial seperti zakat, santunan dhuafa, dan tahlilan warga. Dengan kata lain: warung kecil ini menjadi denyut nadi ekonomi umat.
Ketua Yayasan, Syahrudin, S.Sos.I., M.Pd.I, menyampaikan:
“Kami yakin, kemandirian lembaga tidak lahir dari gedung tinggi, tetapi dari hati yang tulus membangun peradaban. Angkringan Ibu Mariati ini adalah bukti bahwa amal jariyah bisa dimulai dari dapur rumah, dari gerobak kayu, dan dari niat suci.”
Kini angkringan ini bukan hanya tempat makan—tetapi tempat tumbuhnya harapan. Di balik kepulan asap arang, suara sendok di gelas, dan obrolan hangat, terselip sebuah cita-cita besar: melahirkan generasi Qur’ani yang cerdas, mandiri, dan berakhlak mulia dari sebuah warung sederhana di kampung Jabung.