Ponorogo – Dalam momentum rapat evaluasi dan peringatan Hari Santri Nasional 2024, Ketua Yayasan Pendidikan, Sosial, dan Keagamaan Al-Muttaqiin Jabung Mlarak Ponorogo, Syahrudin, S.Sos.I., M.Pd.I, menyampaikan pesan mendalam tentang peran santri di era modern. Dengan lantang ia menegaskan,
“Santri hari ini harus mengaji dan mengabdi, handal dalam ilmu agama namun tidak buta terhadap teknologi dan perubahan zaman.”
Pernyataan tersebut menjadi sorotan penting dalam kegiatan yang digelar pada Senin malam, 21 Oktober 2024, di Serambi Masjid Al-Muttaqin Jabung. Menurutnya, santri tidak boleh hanya berdiam diri dalam lingkup tradisional pesantren semata, tetapi harus siap menjadi generasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akhlak dan nilai-nilai keislaman.
Ia menjelaskan bahwa para wali dan ulama terdahulu menyebarkan Islam dengan kecerdasan, strategi, dan peradaban, bukan hanya melalui ibadah ritual. Maka, di era digital saat ini, santri juga harus memiliki keterampilan berpikir kritis, kemampuan literasi digital, serta kesiapan berkontribusi untuk masyarakat, bangsa, dan umat.
“Mengaji itu fondasi, mengabdi itu pengabdian hati. Tapi hari ini, keduanya harus berjalan berdampingan dengan literasi teknologi. Jika santri mampu membaca kitab kuning, maka ia juga harus bisa membaca dunia,” lanjutnya.
Acara ini juga diisi dengan evaluasi program yayasan, pemaparan capaian kegiatan, serta penegasan rencana strategis pendidikan dan pengembangan sarana prasarana. Selain itu, para santri turut menyemarakkan acara dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, shalawat, hingga pembacaan ikrar santri.
Pesan tersebut mendapat respons positif dari para pengurus, wali santri, dan tokoh masyarakat yang hadir. Mereka sepakat bahwa santri masa kini harus bersikap adaptif—kokoh dalam tauhid, luhur dalam akhlak, namun juga memiliki wawasan luas, keterampilan teknologi, dan kesadaran sosial.
Dengan semangat Hari Santri, Yayasan Al-Muttaqiin berharap lahir generasi “santri progresif” — yaitu santri yang berpijak pada Al-Qur’an, berakhlak seperti ulama, berpikir seperti ilmuwan, dan bergerak seperti pejuang.