Yayasan Pendidikan, Sosial, dan Keagamaan Al-Muttaqiin Jabung Mlarak Ponorogo kembali mengajak umat untuk menapaki jejak para wali dan ulama besar melalui program Ziarah Wali Jawa Timur dan Madura 2024. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai ikhtiar memperkuat spiritualitas, menyambung sanad keilmuan dan kecintaan kepada para pejuang Islam yang telah menyebarkan nilai-nilai tauhid dan peradaban di Nusantara. Ziarah akan dilaksanakan selama dua hari, Sabtu–Minggu, 16–17 November 2024, dengan mengunjungi 14 maqbarah wali Allah dan ulama kharismatik, mulai dari Kyai Ageng Hasan Besari di Tegalsari Ponorogo, pusara para Pendiri Nahdlatul Ulama seperti Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jombang, hingga para wali besar di Jawa Timur dan Madura seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Syeikh Kholil Bangkalan, serta makam Syarifah Ambami (Air Mata Ibu) sebagai simbol pengorbanan dan cinta seorang ibu.
Kegiatan ini tidak semata menjadi perjalanan fisik, namun juga perjalanan hati, ilmu, dan refleksi diri. Peserta akan diajak merenung, mengenang perjuangan para wali yang menyebarkan Islam dengan kasih sayang, budaya, dan akhlak yang luhur. Dengan biaya kontribusi Rp 250.000, peserta sudah mendapatkan fasilitas bus pariwisata full AC dan musik, akses WiFi, snack, air mineral, buku panduan ziarah, perlengkapan P3K, sertifikat penghargaan, serta kartu peserta resmi. Pendaftaran dibuka mulai 1 Juni hingga 31 Oktober 2024 dengan uang muka minimal Rp 50.000, dan pelunasan paling lambat 10 November 2024. Pendaftaran dapat dilakukan melalui formulir online, sekretariat Yayasan Al-Muttaqiin di Jalan Mojopahit No. 22 Jabung Mlarak Ponorogo, atau melalui kontak panitia resmi.
Ziarah ini diharapkan menjadi wasilah bagi masyarakat untuk mempererat tali ukhuwah Islamiyah, meningkatkan cinta tanah air dan tradisi keilmuan Islam Nusantara, sekaligus menghidupkan kembali rasa syukur dan kesadaran bahwa perjalanan hidup ini terikat kuat dengan perjuangan mereka yang mendahului kita. Yayasan Al-Muttaqiin menegaskan, perjalanan ini bukan sekadar wisata religi, melainkan sarana tazkiyatun nafs—penjernihan hati dan penguatan iman. Dengan kuota terbatas, kegiatan ini terbuka bagi santri, wali murid, masyarakat umum, serta siapa saja yang ingin mengambil berkah dari jejak para wali. Semoga langkah-langkah kecil menuju makam para kekasih Allah menjadi langkah besar menuju ridha-Nya