
Masjid Al-Muttaqin Jabung merupakan salah satu institusi keagamaan yang memiliki peran penting dalam perkembangan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Dusun Jabung, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo. Berdirinya masjid ini pada tahun 1967 tidak dapat dilepaskan dari semangat religiusitas masyarakat pedesaan pada masa itu yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya keberadaan sarana ibadah sebagai pusat pembinaan umat. Pada periode tersebut, kondisi kehidupan masyarakat masih sangat sederhana, sementara aktivitas keagamaan sebagian besar dilakukan secara terbatas di mushala kecil maupun rumah-rumah warga. Seiring meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan serta kegiatan keagamaan, muncul gagasan bersama untuk mendirikan sebuah masjid yang mampu menjadi pusat ibadah sekaligus pusat kegiatan sosial keislaman masyarakat Jabung.
Pendirian Masjid Al-Muttaqin dipelopori oleh sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial masyarakat setempat. Tokoh-tokoh tersebut antara lain K. Imam Mubari, Mbah Abdul Basir, Mbah Kateni, Mbah H. Martorejo, Mbah H. Kayun, Mbah Misliman, Mbah Sastro Diharjo, dan K.H. Moh. Sarno. Para tokoh tersebut menjadi penggerak utama dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keberadaan masjid sebagai pusat pembinaan spiritual dan sosial umat Islam. Dalam proses pendiriannya, mereka juga memperoleh dukungan dari para ulama luar daerah, yaitu K.H. Imam Syafa’at dari Desa Gandu dan K.H. Imam Mahmudi dari Desa Bajang. Dukungan tersebut memberikan kekuatan moral dan keagamaan sehingga proses pembangunan masjid dapat berjalan dengan baik dan diterima luas oleh masyarakat.
Pembangunan awal Masjid Al-Muttaqin dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan kemampuan masyarakat setempat. Pendanaan pembangunan berasal dari swadaya masyarakat dalam bentuk uang, bahan bangunan, tenaga kerja, serta bantuan sukarela lainnya. Tradisi gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat pedesaan Jawa menjadi fondasi utama dalam pembangunan masjid ini. Masyarakat secara bersama-sama terlibat dalam proses pembangunan tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi. Hal tersebut menunjukkan bahwa sejak awal berdirinya, Masjid Al-Muttaqin telah menjadi simbol persatuan, kebersamaan, dan solidaritas sosial masyarakat Jabung.
Nama “Al-Muttaqin” dipilih sebagai identitas masjid dengan harapan agar masjid ini mampu melahirkan generasi umat Islam yang bertakwa kepada Allah SWT. Secara etimologis, Al-Muttaqin berarti orang-orang yang bertakwa. Nama tersebut mencerminkan cita-cita para pendiri agar masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga menjadi pusat pembinaan akhlak, pendidikan keagamaan, dan penguatan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, keberadaan masjid dipandang sebagai sarana amal jariyah yang manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat lintas generasi.

Seiring perkembangan waktu dan bertambahnya jumlah jamaah, Masjid Al-Muttaqin mengalami beberapa tahap renovasi pembangunan. Renovasi pertama dilaksanakan pada tahun 1997 sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat akan bangunan masjid yang lebih layak dan representatif. Renovasi tersebut dilaksanakan melalui swadaya masyarakat dan bantuan para donatur dari luar daerah, baik dalam bentuk dana, material bangunan, maupun tenaga kerja. Seluruh proses pembangunan dilakukan dengan sistem kerja bakti dan gotong royong yang melibatkan masyarakat secara aktif. Semangat kebersamaan yang tumbuh dalam proses renovasi tersebut menjadi bukti kuatnya rasa memiliki masyarakat terhadap masjid. Selanjutnya, renovasi kedua dilaksanakan pada tahun 2007 dengan tujuan meningkatkan fasilitas dan kenyamanan jamaah seiring berkembangnya aktivitas pendidikan dan dakwah Islam di lingkungan masjid. Seperti halnya renovasi sebelumnya, pembangunan ini juga dilakukan melalui partisipasi aktif masyarakat dan dukungan para donatur.
Dalam perkembangannya, Masjid Al-Muttaqin tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan sholat berjamaah lima waktu, tetapi juga berkembang menjadi pusat pendidikan, dakwah, sosial, dan budaya Islam masyarakat Jabung. Berbagai kegiatan keagamaan rutin dilaksanakan di lingkungan masjid, seperti pengajian anak-anak, kegiatan sholawat Maulid Nabi, hadroh, Al-Barjanji, kajian fiqih ibadah, serta peringatan hari besar Islam seperti Isra’ Mi’raj, Rajabiyah, dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Selain itu, masjid juga menjadi pusat kegiatan sosial masyarakat, seperti santunan anak yatim, penerimaan dan penyaluran zakat fitrah, serta penyembelihan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha. Tradisi khotaman Al-Qur’an setiap Ahad Pon juga menjadi salah satu kegiatan rutin yang memperkuat nilai spiritual masyarakat sekitar.

Di bidang pendidikan, Masjid Al-Muttaqin memiliki kontribusi besar dalam pengembangan pendidikan Islam masyarakat Jabung. Hal ini ditunjukkan dengan keberadaan TK Muslimat NU 183 Al-Muttaqin Jabung dan Madrasah Diniyah Al-Muttaqin Jabung yang menjadi sarana pembinaan generasi muda dalam memahami ajaran Islam sejak usia dini. Selain itu, masjid juga menjadi pusat kegiatan kepemudaan, kegiatan ke-NU-an, pembinaan seni hadroh, serta kegiatan takbir bersama pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Dengan demikian, masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai keislaman dan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah.
Keberlangsungan dan perkembangan Masjid Al-Muttaqin hingga saat ini tidak terlepas dari peran para ulama dan pengurus takmir yang secara konsisten menjaga dan memakmurkan masjid. Pada periode tahun 1967–1994, kepemimpinan keagamaan dipegang oleh K. Imam Mubari sebagai Kiyai Masjid dan K.H. Moh. Sarno sebagai Ketua Takmir. Selanjutnya pada periode 1994–2010, kepemimpinan diteruskan oleh K.H. Moh. Sarno sebagai Kiyai Masjid dengan Ketua Takmir K.H. Markaban AS dan Bapak Asmuri, S.Ag. Pada periode 2010–2023, K.H. Markaban AS menjadi Kiyai Masjid dengan Ketua Takmir K. Wiyardi. Adapun sejak tahun 2023 hingga sekarang, kepemimpinan Masjid Al-Muttaqin dilanjutkan oleh K. Wiyardi sebagai Kiyai Masjid dan Dr. Syahrudin, S.Sos.I., M.Pd.I. sebagai Ketua Takmir Masjid Al-Muttaqin Jabung.
Dengan perjalanan sejarah yang panjang, Masjid Al-Muttaqin Jabung telah menjadi bagian penting dalam kehidupan religius dan sosial masyarakat. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol persatuan, gotong royong, pendidikan, dan penguatan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat. Semangat kebersamaan yang diwariskan oleh para pendiri dan generasi terdahulu diharapkan terus terjaga sehingga Masjid Al-Muttaqin tetap menjadi pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat bagi generasi yang akan datang.
By.Syahrudin